Wednesday, December 9, 2015

Filled Under: , ,

KEJADIAN LANGKA BAYI BERKEPALA DUA LAHIR SEHAT



bayi dan ibunya
Bayi laki laki yang lahir pada tanggal 26 juni 2013 pukul 21.25 melalui operasi pembedahan di rumah sakit bersalin ( RSB) duta mulya di kecamatan Wanarejo, Cilacap itu memiliki dua kepala. Kedua kepala di topang oleh dua leher. Dari leher kebawah, hanya ada satu tubuh yang menyagga kedua kepala bayi. Bayi lahir sehat. Organ tubuhnya lengkap dan bekerja dengan normal. Secara medis, kasus ini di sebut parapagus dicephalus conjoined twins.

Proses kelahiran bayi berkepala dua itu memang penuh lika liku. Berawal saat senin (24.6) pagi, kala keluarga membawa mujiah ke dokter spesialis kandungan untuk memeriksa kehamilan. Sayang sampai ditempat praktik, dokter tidak di tempat karena sedang bertugas di rumah sakit. Tempat praktik itu baru buka pada sore hari. Keluarga lalu membawa pulang  Mujiah dan berniat kembali pada sore hari. Tadinya kami mau kembali periksa sore hari karena saat itu dokter tidak di tempat. Tapi kata petugas di sana, sore hari dokternya ada. Tapi sore hari hujanya deras sehingga tidak jadi periksa. Kata Usman bapak si bayi berkepala dua itu.

MELALU OPERASI CAESAR
Baru pada rabu (26.6) sore, saat amaujiah merasakan mules, keluarga membawanya ke bidan desa. Di sana, bidan memutuskan merujuk perempuan berparas ayu itu ke rumah sakit karena posisi bayi melintang. Tepat pukul 20.00, rombongan warga desa terpencil itu tiba di RSB Duta Mulya dan langsung di periksa dokter spesialis melalu pemeriksaan dengan alat Ultra Sonography ( USG ) . Diagnos bidan desa dan di perkuat dengan hasil pemeriksaan (USG) , membuat dokter memutuskan  kalau proses persalinan harus melalui operasi.

bayi dan perawat
Waktu di lakukan pemeriksaan USG tidak member gambaran kalau bayi tersebut berkepala dua. Pasalnya, posisi kepala bayi saling berdampingan dan mengarah ke punggung ibu. Dokter hanya mengira kalau bayi dalam posisi sungsang alias melintang dan sama sekali tidak menduga kalau anak itu memiliki kepala dua. Hasil lain dari pemeriksaan itu cukup mengejutkan. Usia kandungan ternyata suda mencapai 41 minggu atau 10 bulan lebih. Kata dokter, kehamilan yang usianya kelewat bulan seperti ini sangat berbahaya bagi ibu dan bayi.

Setelah keluarga memeriksakan persetujuan, tim dokter segera di bentuk dan di ketuai oleh Dr Tatang Muliana SpOG. Sementara perawat dan bidan langsung mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan, termasuk ruang operasi. Tepat pukul 21.00 operasi penuh kejutan itu dimulai. Sektar 25 menit berikutnya bayi berkepala dua itu lahir setelah dokter sempat sedikit mengalami kesulitan. Setelah keluar dari rahim ibu, tim dokter baru menyadari kalau mereka baru saja mengeluarkan bayi langka berkepala dua.

Tim medis lalu melakukan perawatan post natal seperti bayi lain pada umumnya namun dengan perlakuan lebih. Usai di mandikan, bayi langsung di rawat di ruang perinatalogi dan di masukan ke incubator untuk memastikan kondisinya tetap setabil. Perlakuan ini di berika karena tim medis kawatir bayi ini ada kelainan meski berdasarkan observasi awal, organ tubuh bayi dinyatakan bekerja dengan normal dan bayi dalam kondisi sehat.

Melihat kondisi bayi dengan kelainan ini tim dokter langsung menghubungi dokter ahli di RS Sarjito dan memutuskan merujuknya ke rumah sakit di Yogyakarta itu guna mendapatkan perawatan lebih lanjut. Selain itu, keputusan ini berdasari pertimbangan keterbatasan alat dan tenaga spesialis anak.

TIDAK MENDUGA
bayi dan dokterMujiah, seperti halnya tim dokter juga tidak menduga sama sekali kalau buah cinta hasil perkawinan dengan Usman, harus lahir dengan kelainan seperti itu. Harapan untuk bisa memberikan adik bagi anak pertamanya, Zahra Ramadani, berubah menjadi kesedihan mendalam. Terlebih , adik yang diidamkan Zahra, sudah mereka tunggu sejak 3 tahun terakhir ini. Saya sangat bersedih waktu Zahra bilang adik bayi kepalanya dua, kata Mujiah.

Berbekal perkataan polos putri pertamanya, Mujiah berulangkali menanyakan kondisi anaknya kepada suami, kerabat dan juga mertua yang menunggui sejak ke RSB Duta Mulya. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang mau bercerita jujur Zahra dengan pertimbangan untuk tidak memperburuk kondisi Mujiah paska operasi Caesar.

Didorong rasa penasaran dan kejujuran anak pertamanya. Mujiah terus mendesak keluarganya dengan terus menanyakan kondisi anaknya. Berulangkali pertanyaan itu dilontarkan berulang kali pula keluarganya bungkam. Keluarga saya akhirnya cerita bahwa anak saya mengalami gangguan seperti itu. Setelah mendengar cerita itu, saya hanya bisa menangis. Tak kuat rasanya hati ini menerima kenyataan itu. Tetapi saya kembalikan kepada tuhan karena dia maha tau dan maha pencipta.







                                                   =SEKIAN DAN TERIMAKASIH=




1 komentar:

terima kasih telah berkunjung di blog ini,berkomentarlah dengan sopan.